Surat Untuk ‘Ayah Negeri’. “Perlakukanlah anak-anak anda secara adil.”

Bismillahirrahmanirrahim..

Surat Untuk ‘Ayah Negeri’. “Perlakukanlah anak-anak anda secara adil.”


Hallooo bapak Jokowi, semoga anda sehat selalu…. Pak, agama anda dihina sama bapak Ahok. Pembelaan terbaik apa yang sudah dan akan anda lakukan?

.

Pak Jok, anda berada dalam tahta pemimpin tertinggi di negeri ini, sebab pilihan dan kepercayaan yang telah diberikan dari mayoritas rakyat di negeri ini. Ya, negeri yang mayoritas memiliki persamaan prinsip, persamaan keyakinan, dan persamaan landasan dengan anda. Rakyat mayoritas ini menaruh harapan besar kepada anda, pak. Berharap anda dapat menjadi pemimpin yang baik. Dan, tentu, salah satu kriteria pemimpin yang baik adalah yang beriman. Yang menghormati, melaksanakan serta mengamalkan pancasila, khususnya sila pertama. Dan yang beriman tentu akan tersinggung jika agamanya dihina, menukil kutipan dari Buya Hamka “Bahkan agamanya itu akan di dahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri.” Lantas, apa yang menjadi alasan di tanggal bersejarah 4 11 2016 anda sepertinya enggan menemui ribuan rakyat mayoritas yang terluka hatinya? Apakah hati anda pun sedang terluka sebab kata-kata penghinaan yang telah dilakukan bapak Ahok sehingga anda enggan untuk ‘tampil wajah’ menemui rakyat mayoritas. Entahlah..
Lanjut Buya Hamka, “Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu. Jika ghiroh tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi.” Ah.. saya yakin anda tak mau negeri ini jatuh ke lubang yang sama bukan? Pemimpin yang baik tak akan membiarkan wilayah kekuasaannya di jajah oleh asing.
“Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati.” Apakah hati anda sudah mati pak? Saya harap hati anda masih dalam keadaan baik. Masih berdetak melantunkan asmaNya. Hati yang hidup untuk membela dan menegakkan agama Islam.
Pak Jok, jujur saja, saya pribadi merasa bahwa kami (rakyat mayoritas) merasa didiskriminasi. Merasa di anak tirikan oleh ayah sendiri. Sakitnya tuh disini pak. Saya ingat betul pemberitaan bahwa pembakaran gereja di tolikara, anggota GIDI anda panggil ke istana negara bahkan anda jamu dengan baik. Sedangkan kami, tepat tanggal 4 11 2016 seluruh rakyat mayoritas dari berbagai pelosok negeri menuntut keadilan, berharap dapat bertemu bapak namun yang kami dapatkan tembakan dari polisi dan buih gas air mata dimana-mana. Sungguh, ketidakadilan yang sangat menyakitkan. Kami hanya menuntut tersangka yang telah menghina agama saya, agama bapak Jokowi, agama kami (rakyat mayoritas) agar ditindak hukum dengan jelas, tegas dan transparan. Sebab negara kita adalah negara konstitusi. Dimana seharusnya hukun berjalan tajam ke atas dan tajam ke bawah, bukan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Saya yakin, sebagai pemimpin yang baik, anda akan melaksanakan hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Agar anda tidak seperti induk yang memangsa anak kandung sendiri.
Saya hanya ingin mengadukan isi hati saya, kepada anda, ayah negeri ini. Agar anda dapat memperlakukan ‘anak-anak anda secara adil’. Bukankah pemimpin yang baik menerapkan keadilan dalam segala aspek? Iya kan? Bapak ingat kah, salah satu artis yang dipenjara tersebab memelintirkan pancasila? Padahal saya yakin, artis itu tidak dengan sengaja melakukannya, sebagaimana tugas artis adalah menghibur, mungkin niatnya hanya ‘bercanda’ tapi hukum tetaplah hukum. Prosesnya cepat, eksekusi langsung ditindak dan dipenjara sesuai hukum yang berlaku. Apalagi utuk masalah penistaan dan penghinaan yang dilakukan bapak Ahok terhadap kita suci rakyat mayoritas, bukankah kasusnya sama? Hanya saja objeknya yang berbeda. Seharusnya tindak dan prosesnya juga disegerakan bukan? Sesuai hukum yang berlaku. Pak Jok, tolong jangan lindungi srigala berbulu domba. Bahaya. Biarlah berjalan sesuai aturan di negeri ini.

Tapi pak Jok, alhamdulillah, selalu ada hikmah yang Allah beri di setiap peristiwa. Hikmah ini saya kutip dari tulisan Sdr. Agus Khoirul Huda, Lc (Alumni al Ahgaff – Yaman)

Pengasuh SQ KALTIM dengan perubahan seperlunya. Sadarkah, bahwa:
Karena peristiwa ini, mengupgrade kembali semangat rakyat mayoritas untuk mencintai kitab suci yang sudah lama di abaikan. Bahkan bukan hanya sekedar cinta, rakyat mayoritas juga menjadi semakin semangat mempelajari tafsirnya. Banyak ulama dan habaib yang terus menerus menyadarkan rakyat mayoritas akan pentingnya mempelajari tafsir al Quran di sela-sela ceramah mereka, tapi banyak dari rakyat mayoritas yang hanya ngaji kuping (masuk kuping kanan keluar kuping kiri), tapi sadarkah anda pak Jok, pak Ahok berhasil membuat rakyat mayoritas menjadi penasaran tentang keindahan Al Qur’an dan tafsir-tafsirnya, membakar semangat rakyat mayoritas untuk kembali mempelajari indahnya Al Qur’an.
Karena peristiwa ini juga, bapak tersangka penista agama sudah mengajarkan arti toleransi yang sesungguhnya, menyadarkan bahwa toleransi bukan maknanya membiarkan setiap orang untuk menghina agama orang lain dengan sesuka hatinya. Al quran kami mengajarkan kami untuk tidak menghina tuhan siapapun, kitab apapun, tapi tindakan bapak Ahok membodohkan kitab rakyat mayoritas, menyadarkan kami siapa sebenarnya yang tidak mengerti arti toleransi? 

Di Eropa berapa banyak demo anti Islam, tapi Demi Allah sekesal apapun muslimin pada sang penista agama, belum pernah terjadi demo anti Kristen atau Cina. 

Kaum Kristen dan Para Pendeta di Amerika pernah melakukan pembakaran Al Quran, tapi kami tidak ada niat sedikitpun untuk membakar kitab suci agama lain.

Di Prancis mereka mengkarikaturkan Nabi Muhammad dalam keadaan hina, di Indonesia kami belum pernah mengkarikaturkan Yesus terlebih menistakannya.

Bahkan di Negeri ini, negeri muslim terbesar di dunia, anda bisa menghina kitab kami sebagai alat pembohongan, tapi sampai saat ini belum ada ulama yang berkata “Bapak ibu mungkin ada yang bilang Yesus anak tuhan, itu terserah bapak ibu, tapi jangan mau dibohongin pakai Bible atau macam-macam itu”

Ilmu terbesar yang bapak Ahok berikan, tersangka menyadarkan kami sebenarnya yang rasis itu siapa ya?
Peristiwa ini juga yang menunjukkan kepada kami, mana muslim sejati dan muslim munafik yang selama ini tidak terlalu jelas dibedakan. Sayangnya bapak tersangka penista agama hanya menghina al Maidah ayat 51 saja. Sebenarnya kalau saja beliau sedikit melanjutkan ayatnya, maka akan ditemukan di ayat 52 Allah berfirman;

“Maka kalian akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana, ” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”

Jadi esensi ayat 51 itu ada di ayat yang ke 52, akan munculnya orang-orang mengaku muslim, tapi lebih mencintai golongan bapak penista Agama dari pada Al Qurannya sendiri hanya karena mengharapkan jabatan dari bapak tersangka.

Surat Al Maidah ayat 52 yang turun sekitar 14 abad yang lalu ini sukses membuat saya bergetar.

Lalu dilanjut sedikit ke QS. Al Maidah 53: “Akan makin jelas mana orang beriman, mana orang-orang munafik”

QS. Al Maidah 54:  “Allah akan munculkan kaum yang benar-benar Allah mencintainya, dan mereka mencintai Allah. Bersikap lembut pada mu’minin dan keras pada orang-orang kafir. Tidak takut untuk berjihad dan tidak takut dicela”

Dan sadarkah anda, pak Jok, Saat ini sedang terjadi ayat 52 dan ayat 53. Tinggal menunggu ayat 54. Anda berada di antara kaum yang mana?
Ah.. Sedikit banyaknya patutlah kami berimakasih kepada bapak Ahok. Karena beliau telah mejadi inspirasi persatuan ummat Islam yang fantastis. Sungguh bukanlah hal yang mudah membuat orang NU dan Muhammadiyah bisa akur. Tapi pak, dengan mudahnya bapak Ahok membuat mata kami berkaca-kaca ketika kami menyaksikan mereka bersatu dalam satu pertemuan aksi yang begitu besar yang tentunya itu terjadi karena ulah kreatif bapak Ahok. Takbir, shalawat, asma Allah, semua bersatu menggetarkan langit. MasyaAllah..
Ketika melihat FPI yang pro maulid bersatu dengan Muhammadiah yang tidak maulid bergandeng tangan.

Ketika melihat HTI yang nggak pernah akur dengan IM (Baca ; PKS) dalam konteks perpolitikan bisa bersatu saling membahu.

Ketika melihat jamaah shalat subuh di Masjid Istiqlal sebanyak jamaah shalat jum’at, sungguh ini luar biasa.

Sahabat jamaah tabligh, Hidayatullah, MUI, GMJ, Ust Arifin Ilham, Ust Bachtiar Natsir, Pak Amin Rais bahkan AA Gym yang santun turut bangkit bersatu padu.

Inilah persatuan yang kami impikan, persatuan yang pernah terjadi di perang Badar kini terjadi kedua kalinya, di Negeri NKRI tercinta Allahuakbar
Dan Akhirnya kami menyadari, di balik bencinya bapak Ahok and the genk dengan Islam, ternyata banyak hikmah yang kami dapat. Kami semua mendoakan bapak Ahok and the genk dengan hati yang tulus, mudah-mudah Allah segera memberi hidayah untuk memeluk Islam. Saya yakin di dalam hati bapak Ahok and the genk ada titik hikmah yang akan membawa masuk ke dalam hidayah Allah. Banyak orang berkata itu  mustahil, pak Ahok keras tempramental kepala batu, tapi seorang Umar bin khattab memiliki sifat tempramental yang jauh lebih besar dari bapak Ahok. tapi Allah pemilik hati, yang bisa merubah hati, membolak-balikkan hati, semoga Allah memberi hidayah padanya. Kami semua menunggu bapak Ahok and the genk di pintu hidayah, dan semoga bapak Ahok yang terhormat akan menjadi Umar di zaman ini.
Yaaaa begitulah isi hati saya pak Jok. Saya yakin penglihatan anda tidak buta, tapi mengapa disaat Kompas Tv, Metro Tv, Berita Satu, Tribun, Detik, dan media tipu bayaran lainnya membodohi rakyat dengan berita dusta, mengapa anda diam saja, tak ada reaksi dari anda, padahal agama anda yang dihina, bagaimana bila bukan agama anda yang di dihina, akankah anda tetap berdiam diri pak? Saya pun yakin bahwa pendengaran anda tidak tuli, tapi mengapa disaat 2 juta lebih rakyat indonesia menutut keadilan, bersorak di di depan markas kebanggaan anda, seolah anda menutup pendengaran anda, anda tak perduli dengan nasib 2 juta lebih rakyat mayoritas yang ingin mengadukan kesedihan. Saya yakin, mulut anda tidak bisu, tapi mengapa sepertinya lidah anda kelu untuk menyampaikan pembelaan terhadap agama anda sendiri, saya heran pak.

Dan saya yakin, bahwa anda masih memiliki hati yang bersih, dan hati anda belum mati, hati yang hidup oleh cahaya Ilahi, saya yakin pak, disaat nama anda dilecehkan anda pasti marah sebab hati anda belum mati, dan saya lebih yakin bila hati anda bersih maka anda akan lebih marah apabila agama anda yang dilecehkan.
Akhir kata, saya berharap anda adalah seorang ‘ayah negeri’ yang adil. Tanpa rekayasa, tanpa pencitraan, tanpa kamuflase. Sebab sekecil apapun segala sesuatu, tak akan luput dari pandangan Allah. Sedalam apapun bangkai dikubur pada akhirnya akan tercium juga. Saya yakin kemenangan berada di pihak yang benar. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Salam cinta,

Restiani Alfiyah Azhaar

Anak mu dari kaum mayoritas

Iklan

Surat Untuk ‘Ayah Negeri’. “Perlakukanlah anak-anak anda secara adil.”

Bismillahirrahmannirahiim.

Surat Untuk ‘Ayah Negeri’. “Perlakukanlah anak-anak anda secara adil.”
Hallooo bapak Jokowi, semoga anda sehat selalu…. Pak, agama anda dihina sama bapak Ahok. Pembelaan terbaik apa yang sudah dan akan anda lakukan?

.

Pak Jok, anda berada dalam tahta pemimpin tertinggi di negeri ini, sebab pilihan dan kepercayaan yang telah diberikan dari mayoritas rakyat di negeri ini. Ya, negeri yang mayoritas memiliki persamaan prinsip, persamaan keyakinan, dan persamaan landasan dengan anda. Rakyat mayoritas ini menaruh harapan besar kepada anda, pak. Berharap anda dapat menjadi pemimpin yang baik. Dan, tentu, salah satu kriteria pemimpin yang baik adalah yang beriman. Yang menghormati, melaksanakan serta mengamalkan pancasila, khususnya sila pertama. Dan yang beriman tentu akan tersinggung jika agamanya dihina, menukil kutipan dari Buya Hamka “Bahkan agamanya itu akan di dahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri.” Lantas, apa yang menjadi alasan di tanggal bersejarah 4 11 2016 anda sepertinya enggan menemui ribuan rakyat mayoritas yang terluka hatinya? Apakah hati anda pun sedang terluka sebab kata-kata penghinaan yang telah dilakukan bapak Ahok sehingga anda enggan untuk ‘tampil wajah’ menemui rakyat mayoritas. Entahlah..
Lanjut Buya Hamka, “Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu. Jika ghiroh tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi.” Ah.. saya yakin anda tak mau negeri ini jatuh ke lubang yang sama bukan? Pemimpin yang baik tak akan membiarkan wilayah kekuasaannya di jajah oleh asing.
“Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati.” Apakah hati anda sudah mati pak? Saya harap hati anda masih dalam keadaan baik. Masih berdetak melantunkan asmaNya. Hati yang hidup untuk membela dan menegakkan agama Islam.
Pak Jok, jujur saja, saya pribadi merasa bahwa kami (rakyat mayoritas) merasa didiskriminasi. Merasa di anak tirikan oleh ayah sendiri. Sakitnya tuh disini pak. Saya ingat betul pemberitaan bahwa pembakaran gereja di tolikara, anggota GIDI anda panggil ke istana negara bahkan anda jamu dengan baik. Sedangkan kami, tepat tanggal 4 11 2016 seluruh rakyat mayoritas dari berbagai pelosok negeri menuntut keadilan, berharap dapat bertemu bapak namun yang kami dapatkan tembakan dari polisi dan buih gas air mata dimana-mana. Sungguh, ketidakadilan yang sangat menyakitkan. Kami hanya menuntut tersangka yang telah menghina agama saya, agama bapak Jokowi, agama kami (rakyat mayoritas) agar ditindak hukum dengan jelas, tegas dan transparan. Sebab negara kita adalah negara konstitusi. Dimana seharusnya hukun berjalan tajam ke atas dan tajam ke bawah, bukan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Saya yakin, sebagai pemimpin yang baik, anda akan melaksanakan hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Agar anda tidak seperti induk yang memangsa anak kandung sendiri.
Saya hanya ingin mengadukan isi hati saya, kepada anda, ayah negeri ini. Agar anda dapat memperlakukan ‘anak-anak anda secara adil’. Bukankah pemimpin yang baik menerapkan keadilan dalam segala aspek? Iya kan? Bapak ingat kah, salah satu artis yang dipenjara tersebab memelintirkan pancasila? Padahal saya yakin, artis itu tidak dengan sengaja melakukannya, sebagaimana tugas artis adalah menghibur, mungkin niatnya hanya ‘bercanda’ tapi hukum tetaplah hukum. Prosesnya cepat, eksekusi langsung ditindak dan dipenjara sesuai hukum yang berlaku. Apalagi utuk masalah penistaan dan penghinaan yang dilakukan bapak Ahok terhadap kita suci rakyat mayoritas, bukankah kasusnya sama? Hanya saja objeknya yang berbeda. Seharusnya tindak dan prosesnya juga disegerakan bukan? Sesuai hukum yang berlaku. Pak Jok, tolong jangan lindungi srigala berbulu domba. Bahaya. Biarlah berjalan sesuai aturan di negeri ini.

Tapi pak Jok, alhamdulillah, selalu ada hikmah yang Allah beri di setiap peristiwa. Hikmah ini saya kutip dari tulisan Sdr. Agus Khoirul Huda, Lc (Alumni al Ahgaff – Yaman)

Pengasuh SQ KALTIM dengan perubahan seperlunya. Sadarkah, bahwa:
Karena peristiwa ini, mengupgrade kembali semangat rakyat mayoritas untuk mencintai kitab suci yang sudah lama di abaikan. Bahkan bukan hanya sekedar cinta, rakyat mayoritas juga menjadi semakin semangat mempelajari tafsirnya. Banyak ulama dan habaib yang terus menerus menyadarkan rakyat mayoritas akan pentingnya mempelajari tafsir al Quran di sela-sela ceramah mereka, tapi banyak dari rakyat mayoritas yang hanya ngaji kuping (masuk kuping kanan keluar kuping kiri), tapi sadarkah anda pak Jok, pak Ahok berhasil membuat rakyat mayoritas menjadi penasaran tentang keindahan Al Qur’an dan tafsir-tafsirnya, membakar semangat rakyat mayoritas untuk kembali mempelajari indahnya Al Qur’an.
Karena peristiwa ini juga, bapak tersangka penista agama sudah mengajarkan arti toleransi yang sesungguhnya, menyadarkan bahwa toleransi bukan maknanya membiarkan setiap orang untuk menghina agama orang lain dengan sesuka hatinya. Al quran kami mengajarkan kami untuk tidak menghina tuhan siapapun, kitab apapun, tapi tindakan bapak Ahok membodohkan kitab rakyat mayoritas, menyadarkan kami siapa sebenarnya yang tidak mengerti arti toleransi? 

Di Eropa berapa banyak demo anti Islam, tapi Demi Allah sekesal apapun muslimin pada sang penista agama, belum pernah terjadi demo anti Kristen atau Cina. 

Kaum Kristen dan Para Pendeta di Amerika pernah melakukan pembakaran Al Quran, tapi kami tidak ada niat sedikitpun untuk membakar kitab suci agama lain.

Di Prancis mereka mengkarikaturkan Nabi Muhammad dalam keadaan hina, di Indonesia kami belum pernah mengkarikaturkan Yesus terlebih menistakannya.

Bahkan di Negeri ini, negeri muslim terbesar di dunia, anda bisa menghina kitab kami sebagai alat pembohongan, tapi sampai saat ini belum ada ulama yang berkata “Bapak ibu mungkin ada yang bilang Yesus anak tuhan, itu terserah bapak ibu, tapi jangan mau dibohongin pakai Bible atau macam-macam itu”

Ilmu terbesar yang bapak Ahok berikan, tersangka menyadarkan kami sebenarnya yang rasis itu siapa ya?
Peristiwa ini juga yang menunjukkan kepada kami, mana muslim sejati dan muslim munafik yang selama ini tidak terlalu jelas dibedakan. Sayangnya bapak tersangka penista agama hanya menghina al Maidah ayat 51 saja. Sebenarnya kalau saja beliau sedikit melanjutkan ayatnya, maka akan ditemukan di ayat 52 Allah berfirman;

“Maka kalian akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana, ” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”

Jadi esensi ayat 51 itu ada di ayat yang ke 52, akan munculnya orang-orang mengaku muslim, tapi lebih mencintai golongan bapak penista Agama dari pada Al Qurannya sendiri hanya karena mengharapkan jabatan dari bapak tersangka.

Surat Al Maidah ayat 52 yang turun sekitar 14 abad yang lalu ini sukses membuat saya bergetar.

Lalu dilanjut sedikit ke QS. Al Maidah 53: “Akan makin jelas mana orang beriman, mana orang-orang munafik”

QS. Al Maidah 54:  “Allah akan munculkan kaum yang benar-benar Allah mencintainya, dan mereka mencintai Allah. Bersikap lembut pada mu’minin dan keras pada orang-orang kafir. Tidak takut untuk berjihad dan tidak takut dicela”

Dan sadarkah anda, pak Jok, Saat ini sedang terjadi ayat 52 dan ayat 53. Tinggal menunggu ayat 54. Anda berada di antara kaum yang mana?
Ah.. Sedikit banyaknya patutlah kami berimakasih kepada bapak Ahok. Karena beliau telah mejadi inspirasi persatuan ummat Islam yang fantastis. Sungguh bukanlah hal yang mudah membuat orang NU dan Muhammadiyah bisa akur. Tapi pak, dengan mudahnya bapak Ahok membuat mata kami berkaca-kaca ketika kami menyaksikan mereka bersatu dalam satu pertemuan aksi yang begitu besar yang tentunya itu terjadi karena ulah kreatif bapak Ahok. Takbir, shalawat, asma Allah, semua bersatu menggetarkan langit. MasyaAllah..
Ketika melihat FPI yang pro maulid bersatu dengan Muhammadiah yang tidak maulid bergandeng tangan.

Ketika melihat HTI yang nggak pernah akur dengan IM (Baca ; PKS) dalam konteks perpolitikan bisa bersatu saling membahu.

Ketika melihat jamaah shalat subuh di Masjid Istiqlal sebanyak jamaah shalat jum’at, sungguh ini luar biasa.

Sahabat jamaah tabligh, Hidayatullah, MUI, GMJ, Ust Arifin Ilham, Ust Bachtiar Natsir, Pak Amin Rais bahkan AA Gym yang santun turut bangkit bersatu padu.

Inilah persatuan yang kami impikan, persatuan yang pernah terjadi di perang Badar kini terjadi kedua kalinya, di Negeri NKRI tercinta Allahuakbar
Dan Akhirnya kami menyadari, di balik bencinya bapak Ahok and the genk dengan Islam, ternyata banyak hikmah yang kami dapat. Kami semua mendoakan bapak Ahok and the genk dengan hati yang tulus, mudah-mudah Allah segera memberi hidayah untuk memeluk Islam. Saya yakin di dalam hati bapak Ahok and the genk ada titik hikmah yang akan membawa masuk ke dalam hidayah Allah. Banyak orang berkata itu  mustahil, pak Ahok keras tempramental kepala batu, tapi seorang Umar bin khattab memiliki sifat tempramental yang jauh lebih besar dari bapak Ahok. tapi Allah pemilik hati, yang bisa merubah hati, membolak-balikkan hati, semoga Allah memberi hidayah padanya. Kami semua menunggu bapak Ahok and the genk di pintu hidayah, dan semoga bapak Ahok yang terhormat akan menjadi Umar di zaman ini.
Yaaaa begitulah isi hati saya pak Jok. Saya yakin penglihatan anda tidak buta, tapi mengapa disaat Kompas Tv, Metro Tv, Berita Satu, Tribun, Detik, dan media tipu bayaran lainnya membodohi rakyat dengan berita dusta, mengapa anda diam saja, tak ada reaksi dari anda, padahal agama anda yang dihina, bagaimana bila bukan agama anda yang di dihina, akankah anda tetap berdiam diri pak? Saya pun yakin bahwa pendengaran anda tidak tuli, tapi mengapa disaat 2 juta lebih rakyat indonesia menutut keadilan, bersorak di di depan markas kebanggaan anda, seolah anda menutup pendengaran anda, anda tak perduli dengan nasib 2 juta lebih rakyat mayoritas yang ingin mengadukan kesedihan. Saya yakin, mulut anda tidak bisu, tapi mengapa sepertinya lidah anda kelu untuk menyampaikan pembelaan terhadap agama anda sendiri, saya heran pak.

Dan saya yakin, bahwa anda masih memiliki hati yang bersih, dan hati anda belum mati, hati yang hidup oleh cahaya Ilahi, saya yakin pak, disaat nama anda dilecehkan anda pasti marah sebab hati anda belum mati, dan saya lebih yakin bila hati anda bersih maka anda akan lebih marah apabila agama anda yang dilecehkan.
Akhir kata, saya berharap anda adalah seorang ‘ayah negeri’ yang adil. Tanpa rekayasa, tanpa pencitraan, tanpa kamuflase. Sebab sekecil apapun segala sesuatu, tak akan luput dari pandangan Allah. Sedalam apapun bangkai dikubur pada akhirnya akan tercium juga. Saya yakin kemenangan berada di pihak yang benar. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!
Salam cinta,

Restiani Alfiyah Azhaar

Anak mu dari kaum mayoritas

Jaman Jahiliyah -> HIJRAH

Jaman Jahiliyah.

Ah, saya jadi teringat.

Ketika (dulu) masa-masa masih di jhs, saya menjelma menjadi anak yang banyak gaya, banyak koleksi teman, dan akhirnya banyak mengundang masalah.

(dulu) sempat juga gabung jadi suporter salah satu tim sepak bola. Padahal saya nggak suka sepak bola :p cause i love semua hal yang berbau uforia. Ya.. Senang aja kalau kumpul di keramaian. Seru gituuuu..

(dulu) saya suka banget traveling. Rela nabung hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata. Sekarang juga masih suka traveling sih, but, travelingnya via internet hehehe

(dulu) saya juga suka sangat dengan musik, suka berkicau ria walau suara fals 😀 kalau ada lagu baru, cepat saya hafal. Apalagi yang bergenre romance. Wah sudaaahh..

(dulu) walau suka main, belajar juga jalan teruuuss. Focusing my life to reach the achievement. Cari prestasi sebanyak mungkin. Ambisi saya, sukses di usia muda. Urusan akhirat belakangan. Nanti saja kalau sudah tua baru banyakin ibadah.
Then, alhamdulillah, Allah izinkan hidayah menghampiri saya, Allah kasih petunjuk tentang semua perkara ini.

Finally, saya sadar. Saya paham.

Banyak gaya, banyak masalah. Setelah saya renungkan, saya berhenti pecicilan. Alhamdulillah hidup saya lebih tenang.

Banyak koleksi teman, tapi hanya beberapa yang mengajak kebaikan. Selebihnya you know laaahhh… Banyak gaya semuwahhhh -_- saya coba ajak kebaikan, mereka jauhi saya. It’s okay.

Uforia bagi saya temporary. Kumpul-kumpul, serua-seruan, biasanya pertandingan sepak bola diadakan sore/malam, finally saya pun sering pulang malam, sering dimarahin, beberapa hari gak masuk sekolah karena sakit. Ah capek juga ternyata. Cukup! Saya pensiun jadi suporter sepak bola. Benar-benar kesenangan yang sesaat.

Traveling? Habiskan uang only for immediate gratification. Astaghfirullah. Sedikit sekali manfaat yang saya dapat. Sampai sekarang saya masih suka explore wisata, but, cukup via interner saja, lebih lengkap informasinya hehe *alasan :p

  • Musik tidak akan pernah bersatu dengan Al-Qur’an.” Waduh! Saya delete semua koleksi musik yang memenuhi hampir 80% memori saya. Haram. Saya ganti dengan muratal Al-Qur’an. MasyaAllah. Galaunya jadi beda hehe coba deh..

Allah itu betapa.. MasyaAllah

Gak perduli sejauh apa dulu saya pernah lari dariNya, nyatanya Dia masih perduli dengan saya, masih sudi mengurus hidup saya, sungguh Maha Rahman & Maha Rahim.
Saya tak bisa bayangkan, andai sedetik saja Ia melupakan saya, entah apa yang akan terjadi dengan diri saya, dengan hidup saya. Tak perduli seberapa sering dulu saya melupakanNya.
Rabb.. Ampuni saya.. Ampuni diri yang terlalu berlumur dosa. Iman yang terlalu banyak cacatnya.
Lagi lagi, Ia menghujamkan kasih sayangNya. Allah gives me petunjuk. Allah kasih teman-teman yang baik, Allah tempatkan saya di lingkungan yang baik, semoga saya terbawa menjadi lebih baik.
*menghela nafas*
Saya tertawa: Begitu lucu hidup ini.

Kok bisa ya dulu begitu? Hehe

Sudahlah. Cukup dijadikan cermin. Tancapkan prinsip  “Tak akan jatuh ke lubang yang sama“.
Teruntuk kalian, sahabat Jannah.

Terimakasih.

Telah merangkul saya yang hina.

Karena Allah.

H  I J R A H .

Hidayah tak akan menghampiri kalau kita tak membuka hati.

Alhamdulillah. Tetapkan Rabb..

Surat Untuk Tuan

Surat Untuk Tuan.
Akhir-akhir ini kuhabiskan sisa waktu di ujung hari ku dengan menulis tentang ku, tentang mu, tentang masa yang menjadi cita.

Maaf, Aku menulis ini sekedar menghibur diri.

Sebelumnya, selamat untuk kamu. Semoga menjadi keputusan yang terbaik, dan menjadi akhir yang baik pula.

Kamu boleh bilang kalau aku ketinggalan. Tertinggal jauuuuhh di belakang mu. Terserah kamu.

Aku hanya ingin memaksimalkan peran ku atas skenario yang telah dirancang oleh Rabb ku.

Bukan menyerah sebelum perang, sebab memang kondisi yang tak memungkinkan.

Bukan juga mundur dan putus asa.

Namun, aku yakin bahwa langkah ku akan membawa ku ke akhir yang indah, akhir yang terbaik menurut Rabb ku.

Walau sakit, walau pahit, tapi ini pemberian dari Rabb ku, maka aku yakin ini yang terbaik.

Kamu harus tau,

Sampai saat ini aku tidak pernah lupa dengan mimpi-mimpi ku.

Aku tetap memperjuangkannya, aku tetap membelanya, hanya saja jalan dan arahnya yang berbeda.

Aku bertumpu pada waktu dan cara yang Allah rencanakan, bukan yang aku rencanakan.

Yang tidak kamu tahu,

Dalam memperjuangkan mimpi-mimpi itu, aku harus terjerembab dan merasakan luka yang begitu perih, aku juga harus jatuh tersungkur dan merasakan kasarnya tanah di wajah ku.

Tapi kamu tidak tahu,

Bahwa saat itu, seketika aku selalu bangkit kembali.

Membiarkan hujan membasuh darah di wajahku, ku biarkan waktu menyembuhkan luka di sekujur tubuh Ku, membiarkan udara membersihkan hati dan jiwa ku, dalam perjalanan panjang ku.

Aku seorang pejuang. Pejuang yang setia membela mimpi. Walau medan yang berliku. Aku tetap bertahan.

Menyerah bukanlah sifatku!

Insyaallah, walau belum ku rasakan hiruk pikuk pondok pesantren, walaupun belum sempat belajar di perguruan tinggi, insyaallah mimpi ini akan tetap ada.

Sesekali aku akan menoleh ke belakang. Bukan untuk mengulang lagi kesalahan mu. Tapi untuk melihat bahwa ternyata sudah sejauh ini kamu beranjak dari masalalu. Dan kamu akan baik-baik saja. Tidak seperti aku, yang jauh tertinggal di belakang mu.

Sekali lagi, selamat untuk kamu.
Sajak untuk tuan:

“Tertatih menyembunyikan luka yang begitu dalam

Lelah untuk selalu pura-pura bertahan

Mungkin cinta yang buatku berani membela mimpi

Ku rapikan sisa-sisa perban,

Menambal sobekan luka yang dahulu

Untuk merangkai kembali mimpi besarku

Tuan, tidakkah kau iba pada gadis mu?

Gadis mu teramat letih mengobati luka di hatinya.

Tidakkah kau berusaha memulihkan lukanya, tuan?

Berhentilah membuat ego semakin menjadi

Tuan, jika waktunya tepat, saat tinggal hanya kau dan aku nanti,

Aku akan selalu punya alasan untuk pulih.

Selamat untuk tuan.

Doakan gadis mu segera menggapai mimpi-mimpinya.”
Insyaallah, rasa letih dan sakit ini akan terobati dengan nikmat luar biasa dariNya, akan tebalaskan dengan akhir yang indah. Sesuai dengan rencaNya, bukan rencanaku. InsyaAllah.

ABOUT.

ABOUT.
Seseorang yang menatap semesta pada tanggal 9 Mei 1998 silam, tertatih menapaki tiap sudut dunia dengan bekal dari orangtua.
Seseorang yang terlahir tak sempurna, namun selalu berusaha menjadi sempurna walau tetap jauh dari sempurna.
Seseorang yang fakir ilmu, sangat berkeinginan belajar dan mengajar di pelosok Negeri.
Seseorang yang jatuh cinta pada buku, berharap bisa membangun perpustakaan seluas mall tiga lantai.
Seseorang yang telah lama mengagumi senja, bermimpi bisa menikmati senja di ufuk kota Bali ditemani seseorang yang saat ini masih dirahasiakan rupa dan namanya.
Seseorang yang baru mengenal sastra, mencoba menuangkan berbagai kisah dan perjalanan hidup, walau tak begitu indah
Seseorang yang tetap bertahan di tepian hati, memilih diam dalam persaingan, mengutarakan lewat tulisan, tidak mengutarakan dengan lisan.
Seseorang yang mencoba menghasilkan berbagai karya sederhana, walau banyak yang tak bermakna. Semoga dapat bermanfaat untuk insan dunia.

Restiani Alfiyah Azhaar.

Seseorang yang sedang menikmati proses.

Untuk Rindu yang Ku Bela


Ajari aku…

Agar bisa menyembunyikan rindu

Merapikan jejak-jejak langkah mu dalam ruang memori ku

Untuk ku simpan dan ku kenang bila perlu
Ajari aku…

Bagaimana caranya mengekspresikan rindu

Pada insan yang dahulu

Sebab aku tak begitu pandai mengelolanya

Terlalu rumit
Ajari aku…

Menyederhanakan sebuah rindu

Agar tak selalu mengusik hati ku

Menghantui setiap hela nafas ku

Aku tak mampu
Ajari aku…

Membuang jauh ego ku

Untuk selalu membela rindu ku

Yang entah dimana kini berada
Rindu memang tak harus selalu sama

Tak harus selalu ada

Juga tak mesti terangkai lisan

Rindu ini tetap satu
Bolehkah aku mempertahankan rindu ku? -Yang dahulu.